Category

Pengertian Ruang dan tempat (space & place) pada Arsitektur

Manusia senusantara berkelompok- berkelompok serta bersama- sama hidup berbaur dengan alam, baik alam tersebut berbentuk daratan yang mereka tempati, sungai, langit ataupun alam semesta secara luas. Dalam menempuh kehidupan tersebut, manusia berupaya buat dapat senantiasa eksis mempertahankan keberadaan mereka serta mewariskan kehidupannya kepada anak cucu nantinya kelak. Oleh sebab itu, manusia terus belajar buat bisa bersahabat dengan alam, makhluk- makhluk ataupun benda- benda lain yang berdekatan dengan mereka. Dalam menempuh kehidupannya, mereka terus berpindah dari satu posisi ke posisi yang lain.

Dini awal Mula adanya Ruang dan Place

Kala manusia menempati suatu ruang/ tempat yang belum bernama, manusia tersebut membuat naungan buat melindungi diri dari hujan yang cocok dengan hawa nusantara yang tropis. Tidak hanya itu manusia pula melindungi api dari hujan, angin serta kelembaban tanah dengan membuat shelter( pelindung). Mereka terlindungi oleh obor api sebab api ialah perlengkapan untuk mereka supaya dapat senantiasa hidup, buat menghangatkan temperatur di malam hari serta untuk keperluan memasak.

Dengan terdapatnya proteksi serta pernaungan terhadap manusia dan api, hingga manusia bisa menempuh kehidupannya di tengah alam yang mereka diami, maka itulah yang dinamakan dengan place/ tempat dalam arsitektur. Seseorang geografer bernama Yi Fu Tuan mengatakan kalau tempat telas eksis kala manusia membagikan arti pada sebagian dari ruang yang lebih besar. Kala sebagian ruang dari ruang yang lebih besar di suatu posisi diberi nama ataupun diidentifikasi, hingga ruang yang sudah bernama itu jadi suatu tempat.

Tempat untuk Hunian

Manusia mulai menetap di suatu posisi serta hidup di tempat tersebut untuk jangka waktu yang lama, konsep tempat buat melindungi serta mengelola setelah itu berganti. Kelompok masyarakat mulai memaknai suatu tempat buat ditempati ataupun dihuni. Warga yang mulai menghuni suatu tempat setelah itu mempunyai bukti diri bagaikan warga penunggu tempat tersebut. Mereka saat ini membutuhkan eksistensi bagaikan suatu kelompok, begitu juga bahasa serta simbol dari kelompok penunggu tersebut.

Konsep tempat bagaikan proteksi serta pernaungan terhadap api jadi terasa kurang cocok sebab mereka saat ini membutuhkan tempat lain buat berkumpul. Sebab seperti itu arti tempat jadi lebih luas jadi:

  1. Tempat mempertahankan api
  2. Tempat buat berkumpul dengan naungan
  3. Tempat buat berkumpul di luar bangunan/ tanpa naungan

Perihal inilah yang setelah itu diucap bagaikan konsep komposisi tertua dari pembuatan ruang, tempat serta wujud pada arsitektur.

Sehabis menghuni suatu tempat, hingga manusia mempunyai konsekuensi sehubungan dengan tempat tersebut, ialah:

  1. Butuh ilmu tentang arah/ orientasi sehingga mereka bisa kembali pada tempat asal yang mereka huni.
  2. Mereka menjadikan tempat hunian kelompok mereka bagaikan titik nol ataupun titik dini dari aktivitas- aktivitas mereka. Mereka sudah mempunyai tempat kembali sebab memutuskan untuk tidak lagi nomaden (berpindah – pindah).
  3. Tempat yang satu dengan tempat yang lain bisa digunakan buat mengenali arti arah“ di sini” serta“ di sana” sehingga membutuhkan atribut buat mengidentifikasi tempat yang satu serta yang lain.

Kepekaan dari Sebuah Tempat

Sekelompok warga yang sudah menetap berarti mulai mempunyai bermacam tipe tempat di dalam area kelompoknya. Tidak hanya itu, mereka saat ini pula wajib hidup berdampingan dengan area sekitarnya dengan lebih permanen. Maksudnya mereka wajib mengidentifikasi identitas dari area tempat mereka tinggal. Panas, hujan, badai, ataupun gempa merupakan suatu yang wajib mereka hadapi sebab mereka memilah buat menetap. Tidak hanya dengan pengetahuan, mereka mulai paham kalau terdapat kedudukan Yang Maha Kuasa pada fenomena- fenomena alam yang mereka hadapi. Pada awal mulanya mereka mempersepsikan kalau badai timbul sebab Dewa marah serta masa panen timbul karana Dewa bermurah hati. Sebab seperti itu manusia melaksanakan upacara- upacara bagaikan upaya unuk menyenangkan hati para Dewa. Mereka mulai mempunyai tempat buat berkumpul serta melaksanakan upacara tersebut.

Manusia mulai mempunyai bermacam tipe tempat buat bermacam kegiatan. Sebab seperti itu manusia mulai dapat membagikan nilai pada tempat yang satu serta pula tempat yang lain. Tempat yang digunakan buat beribadah dikira bagaikan tempat yang bernilai besar/ suci. Keahlian buat merasakan nilai dari suatu tempat seperti itu yang diucap bagaikan Kepekaan dari Sebuah Tempat.

Foto di atas merupakan contoh pembagian tempat pada bagi warga yang ingin membangun sebuah tempat ibadah yaitu masjid. Ada taman tengah, Terdapat Masjid dan tempat untuk pengurus di pojok komplek bangunan masjid, menampilkan tempat sangat besar, dengan tempat wudhu utama di sebelahnya supaya orang – orang yang ingin ngambil air wudhu dekat dengan tempat ibadah.

Penyatuan dengan Alam

Konsep ruang dan place pada arsitektur nusantara terus tumbuh secara alamiah bersamaan dengan kebutuhan hidup manusia nusantara buat dapat eksis hidup menyatu dengan alam semesta. Manusia menempuh hidup tiap hari bersama alam sehingga pertumbuhan ruang dan tempat bisa terus berlangsung secara bertepatan dengan keberlangsungan alam semesta baik secara lokal ataupun secara totalitas. Itulah kenapa dalam dunia arsitektur pengetahuan akan space dan place itu penting karena kebutuhan manusia yang semakin kompleks, maka dalam dunia arsitektur pun harus semakin peka dalam menanggapi kehidupan antara tempat dan ruang yang mesti dibutuhkan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *